12.28.2012

Jogjakarta [dalam kata] bag. 4

DAY 4 17-12-12

"Gimana kalau kita naik sepeda ke Parangtritis?"

Rencananya, wacananya, spik-spiknya sih kemaren kayak gitu wokwokwok. Emang dasar anak-anak sok tau ya.. Belum tau aja kalau dari Malioboro ke pantai itu jaraknya puluhan kilometer dan jalannya juga ada turunan dan tanjakan. Nyampe sih mungkin, tapi mungkin nyampenya besok (-_- )

Oh iya, karena satu dan lain hal hari ini Munif pulang duluan hiks. Jadinya it's just the three of us, we can make it if we try(?) Bayu, Lita dan Silmi against the world!

Setelah sarapan yang cukup... Ngomong-ngomong soal cukup, selama di Jogja gue mengusahakan makan itu ya sampai cukup aja nggak harus sampai kenyang biar ngirit uang. Jadi kalau makan nasi kucing (2000rupiah) ditambah satenya (1500rupiah) dan gorengan (500rupiah) ditutup dengan teh tawar hangat (500rupiah) itu udah cukup untuk si perut maka cukupkan saja sampai di situ hahaha. Trus jadi mikir gimana kalau nanti ngekos pas kuliah... Mudah-mudahan gue nggak bertambah kurus aamiin.

Sampai di mana kita tadi? Oh he-eh, setelah sarapan kami bertiga berangkat ke tujuan pertama dari tur de gowes hari ini: Pasar Hewan Pasty! Yak, lagi-lagi kami akan bertemu dengan hewan-hewan lucu. Betapa penyayang binatangnya kami. Jarak dari Malioboro ke pasar hewan tidak terlalu jauh rupanya, apalagi dibandingin sama jarak ke Parangtritis. Kalau naik bis cuma 10-15 menit.

Berangkatlah kami ditemani langit yang sedikit mendung dan angin semilir. Untung juga langitnya mendung jadi mataharinya nggak bisa menyengat kami. +gowes gowes gowes+

Wuaaaah. Sangat cinta Jogjakarta dan jalur sepedanya yang tertata rapi. Dan jalanannya yang tidak macet. Dan pengemudi kendaraan bermotor yang pengertian. Coba kalau semua kota di Indonesia kayak gini... Berapa banyak polusi yang bisa dikurangin, berapa besar dampaknya terhadap kesehatan lingkungan.

Jadi di setiap jalan besar itu selalu ada sisa untuk pengendara sepeda. Di banyak lampu merah ada ruang tunggu sepeda. Dan setiap ada jalur alternatif sepeda pasti selalu ada plangnya, ngasih tau itu jalur alternatif menuju ke mana. Empat jempol buat yang ngebangun! Semoga masuk surga pak. Waah jadi Jogja itu selain walkable dan public-transportation-able, bike-able juga toh.

Walaupun diantara kita bertiga nggak ada yang tau Pasar Hewan Pasty itu di mana, meskipun kami udah nggak bisa pake apple maps, kami tidak tersesat hohoho! Ini semua berkat peta gratis yang didapat dari kebun binatang Gembira Loka! Haha sangat gembira.

Setelah muntah banyak pelangi di pasar hewan.. Kenapa muntah pelangi? Soalnyaa ya ampun kiyut-kiyut banget anjing kucing kelinci kan jangkrik tokek ular semuanya! Gak kuat.. Ada burung hantu pula.. Mau beli sebetulnya tapi takut mati nanti kalau binatangnya naik kereta(?) Lanjut gowes lagi ke tujuan selanjutnya. Pas banget keluar dari pasar hewan hujan turun rintik-rintik dan lama kelamaan berubah jadi hujan deras. Terpaksa neduh dulu di pinggir jalan. Oke ternyata kalau orang bilang don't wait for the rain to stop itu betul ya soalnya dia nggak bakalan stop haha kami berteduh cukup lama. Samapi akhirnya hujannya tinggal sedikit baru kami kayuh lagi itu sepeda.

Tujuan selanjutnya adalah... eng ing eng! Kotagede, pusat kerajinan perak! Meskipun nggak ada yang mau beli perak juga sih wkwk namanya juga kan sepedaan, kemana pun itu yang penting naik sepeda(?) Di perjalanan menuju Kotagede ternyata perut kami mulai meronta-ronta berteriak kelaparan. Baiklah, perut-perut.

Kami menemukan warung Lotek Bu.. Aduh bu siapa ya gue lupa.. Hmm sebut saja Mawar. Di warung Lotek Bu Mawar inilah perut lidah dan kantong kami dimanjakan dengan porsi banyak dan cita rasa yang begituuu nikmatnya dan harga yang terjangkau. Sebenarnya lotek itu apa sih? Salaah, bukan permen karet! Kalau menurut wikipedia si ensiklopedi bebas, lotek itu hampir sama dengan pecel, yakni makanan berupa rebusan sayuran segar yang disiram dressing berupa sambal dicampur bumbu kacang. Wuih dressing, padahal nggak pake dress(?). Bisa dimakan pake nasi atau lontong. Mirip gado-gado juga kalau di Jakarta.

Yang bikin lotek bu Mawar ini beda dari pecel atau gado-gado biasa adalah bumbu kacangnya. Nguleknya itu kayaknya pake cinta deh. Srius rasanya top markotop lah kalau kata pak Bondhan Winarno. Kalau kata orang bule oh my God it's so f-ing good. Kalau kata orang sunda meuni enak pisan (tapi ini orang sunda kw 3 wkwk). Kalau kata orang India nehi nehi nehi nehi aca bum bum. Kalau kata orang Perancis oui merci oui oui. Kalau kucing yang makan miauw miauw miauw. Kalau kata orang yang lagi baca udahan ah capek.................

Pokoknya kalau mampir ke Jogja harus cobain penganan yang satu ini ya pemirsa. Sayangnya lupa sih nama warungnya itu apa, letaknya di jalan apa juga lupa.. Oh iya harganya satu porsi 6000, murah kaaan. Kalau di Jakarta mungkin bisa sampe 20000 kalau dijualnya di mall (yudontsay). 6000 udah kenyang banget bahkan gue nggak abis trus diabisin Lita hehehe. Kalau di angkringan 6000 itu baru sampe level cukup, belum level kenyang apalagi level kenyang banget.

Setelah perut kami bahagia kami pun melanjutkan perjalanan. Wah ternyata masih lumayan jauuh. Lewat ring road selatan, lewat jalan yang sedikit nanjak, sampai akhirnya terlihat deretan toko-toko yang menjual berbagai kerajinan perak. Bagus-bagus sepertinya (orang lewat doang wkwk). Bagus juga ini penataan tempat wisatanya. Hebat hebat.

Pulangnya kami mampir ke rumah sepupunya Lita, nggak jauh dari Jl. Patangpuluhan. Lumayan, sejenak mengistirahatkan kaki. Di sana Lita cerita sama sepupunya tadinya bahkan kita mau sepedaan sampe Parangtritis, terus sepupunya Lita bilang, wah jangan ke pantai itu, itu mah isinya mendes gondes. 

Mendes? Gondes? Apa pula itu? +mendadak batak+ Jadi mendes itu, jelas sepupunya Lita, adalah singkatan dari.. Dari apa yak aduh gue lupa wkwk pokoknya desnya itu ndeso. Mendes itu cewek kalau gondes itu cowok. Gondes itu biasanya yang bajunya kegedean sok hip hop terus celananya melorot-melorot. Oalaaaah alay-alay gitu toh maksudnya. Yang upay-upay gitu deh katanya.

Trus ada juga nih sebutan lain. Waktu Lita sempat menyinggung gimana kalau kita ke Amplas (Ambarukmo Plaza) aja besok, sepupunya Lita bilang kalau yang ke Amplas itu biasanya kimcil-kimcil. Hahaha apaan lagi tuh.. Temennya kimchi? Hoo ternyata kimcil itu anak-anak SMP yang masih pada labil-labil. Wkwkwk lucu-lucu ya sebutannya.

Kami mengobrol ini dan itu dan tak terasa toples makanan di rumah sepupunya Lita udah tinggal setengah wkwk berarti waktunya untuk pulang ke losmen.

Sampai di losmen kakinya sakit hahaha pasti karena sudah bersepeda seharian. Tapi sangat senang. Wuhu asyiknya bila bersepeda~ Wuhu~ Berkeliling di Jogjakarta~ Btw tadi ngelewatin hotel tempat nginep pas study tour dulu itu loh di jalan pulang. Terus tos sama banyak pohon! 

Despite the pain on my legs, today was a blast!

1 comment

© Silly Me
Maira Gall