1.22.2018

Semester 8 Sudah (Lama) Berlalu



"Ternyata rasanya lulus itu b aja ya, malah cenderung sedih. Beda sama waktu diterima dulu. Mungkin kayak abis pacaran terus putus kali ya???" cuit saya setelah akhirnya berhasil melewati Sidang 3. Seorang teman menanyakan bagaimana perasaan saya ketika itu. Jujur, ada sedikit perasaan lega, namun pertanyaan lainnya juga datang menghampiri. Pertanyaan-pertanyaan seperti, "Habis ini mau ke mana?", "Lalu, selanjutnya apa?", bermunculan dalam kepala.

Semester 8 kemarin, saya seperti menemukan diri saya kembali. Saya menghabiskan banyak waktu sendiri (persentase introvert saya meningkat lagi setelah semester ini), mencari tahu, bertanya, berkenalan, bepergian, mencari sudut pandang baru, serta berkenalan dengan orang-orang baru. Sudah lebih dari dua bulan berlalu sejak saya diwisuda. Sebelum saya benar-benar lupa, saya akan mencoba menuliskannya di sini, apa saja yang saya dapat setelah berbulan-bulan bergelut dengan diri sendiri?

Selain mengerjakan TA, saya masih harus mengambil satu mata kuliah lain bernama Sendal alias Seni, Desain, Lingkungan, menyelesaikan tugas saya sebagai ketua unit, menjadi kontributor untuk sebuah webzine musik, mengerjakan proyek kecil (yang meskipun sekarang masih jadi wacana tapi darinya saya mendapatkan pengalaman lucu), hingga bekerja part-time di sebuah perusahaan start-up/UKM sambil menunggu kepastian sidang.


Seni, Desain, Lingkungan
Mata kuliah ini diwajibkan untuk mahasiswa jurusan desain dan seni agar mereka bisa berkolaborasi dalam merespon maupun menyelesaikan masalah yang ada di sekitar kita. Jurusan lain juga bisa ikut, tapi nggak wajib. Anyway, akhirnya saya bisa satu kelas lagi sama Tuna setelah lama terpisah! Kami pun bergabung dalam satu kelompok bersama anak-anak DP, ada Karin, Putik, dan Cel. Kali ini, Sendal bekerjasama dengan Karang Taruna Bandung sehingga tiap kelompok bisa memilih topik apa yang ingin digarap, dengan lokasi berbeda-beda yang sudah ditentukan.

Kelompok kami memilih Kampung Film yang terletak di daerah Arcamanik. Wah, saya juga baru tahu kalau ada kampung semacam ini di Bandung. Kampung ini digagas oleh sebuah komunitas film, dimana anggota-anggotanya belajar membuat film secara otodidak dan mengajak warga sekitar untuk menjadi pemeran dalam film-film yang mereka buat. Saya salut akan semangat mereka dalam membangun komunitas ini, apalagi ketuanya juga masih lebih muda dari saya.

Kami berkunjung ke sana dan coba ngobrol dengan komunitas tersebut. Mereka bilang sedang butuh desain pendopo untuk tempat warga berkumpul, belajar, dan latihan. Setelah beberapa kali asistensi akhirnya kami membuat desain seperti ini, dengan maket yang kami kerjakan dalam waktu dua hari. Hehehe.


Maket Kampung Film (Sumber: Dok. pribadi)

Tugas Akhir Interior
Yang kalau disingkat akan menjadi..... (silakan isi sendiri). Ya, highlight dari semester ini, apalagi kalau bukan... TA! Sempat saya singgung sedikit waktu cerita tentang Semester 7 kalau saya berencana merancang Museum Musik Populer Indonesia. Masih sejalan dengan rencana saya ketika itu, saya pun mencoba mengumpulkan lebih banyak informasi mengenai museum dan musik populer di Indonesia. (Oh iya btw, populer yang saya maksud di sini adalah diketahui orang banyak, jadi musik-musik indie sekalipun bisa termasuk ke dalamnya).

Sebelum memulai perancangan, saya coba ngobrol-ngobrol dengan beberapa tokoh yang aktif di dunia permusikan Indonesia. Ada mas David Tarigan dari Irama Nusantara yang keren banget mau meluangkan waktunya untuk mengarsipkan musik Indonesia lawas, padahal dokumennya masih tercerai berai di mana-mana. Website-nya juga keren, saya jadi bisa dengar banyak lagu yang belum pernah saya dengar sebelumnya dan lihat cover albumnya di sana. Ternyata banyak sekali yang menarik, desain albumnya pun tidak kalah dengan cover album masa kini.


Sampul Album Masa Lampau (Sumber: iramanusantara.org)

Naik bis untuk menempuh perjalanan sekitar tiga jam, saya menyambangi Perpustakaan Batu Api (Batap) di Jatinangor. Di sana saya menemui Bang Anton, pemilik Batap yang pengetahun musiknya luas sekali. Bang Anton lebih banyak menjawab pertanyaan yang saya ajukan sambil bercanda, namun saya senang karena bisa melihat kliping-kliping yang ia kumpulkan sejak masih muda. Banyak berita musik yang terdapat di koran maupun majalah yang bisa saya baca. Saya juga sempat ngobrol sama mas Budi Warsito, pemilik Kineruku yang sampai sekarang masih rajin menulis tentang musik di blog/media sosialnya, serta mengumpulkan piringan hitam dan majalah-majalah musik jadul. Beliau menyarankan saya untuk menyertakan arsip sekunder seperti artikel dan kliping majalah di dalam museum yang akan saya rancang nanti.

Senada dengan mas Budi, mas Idhar Rhesmadi juga setuju kalau jurnalisme musik sangat mendukung perkembangan musik tiap jamannya. Penulis buku biografi Pure Saturday ini saya temui di salah satu tempat ngopi di daerah Linggawastu. Sempat saya tanyakan juga pendapatnya mengenai perkembangan musik di Indonesia. Katanya, mas Idhar pernah baca buku (aduh, saya lupa judulnya apaa) yang menceritakan asal mula musik masuk ke Indonesia.

Dari awal, musik populer memang dibawa ke Indonesia sebagai sarana hiburan, tidak disertakan dalam kurikulum pendidikan seperti di Jepang, misalnya. Akibatnya, sebagian besar masyarakat Indonesia tidak menganggap musik sebagai hal serius yang perlu dikaji lebih dalam. Katanya juga, musik Barat masih akan selalu mendominasi. Pure Saturday gak akan bisa jadi Coldplay. Menurut saya hal ini berlaku bukan hanya untuk musik saja, tapi juga banyak hal lain seperti makanan, fesyen, yang sistem distribusi dan marketingnya sulit untuk dikalahkan oleh produk buatan kita sendiri.

Sebelumnya ketika Pra-TA dulu saya juga sempat membuat kuesioner kecil-kecilan yang saya sebarkan lewat internet (terima kasih banyak untuk kalian yang sudah bersedia jadi responden!), dari situ saya lihat responnya cukup baik, banyak anak muda seumuran saya yang tertarik untuk mengetahui sejarah musik Indonesia dan perkembangannya hingga saat ini. Karena target utama saya adalah milenial, saya berpikir untuk membuat museum dengan pendekatan yang lebih interaktif dibanding museum-museum yang ada di Indonesia sekarang, di mana kebanyakan artefaknya masih ditampilkan dengan cara yang konvensional.

Saya coba mengunjungi beberapa tempat untuk dijadikan referensi seperti Lokananta, Museum Nasional Indonesia dan Arsip Nasional di Jalan Ampera. Namun karena museum di Indonesia belum ada yang sesuai dengan apa yang saya harapkan, saya lebih banyak berselancar lewat internet dan mengumpulkan museum-museum menarik yang ada di dunia. Ternyata, museum yang mendekati bayangan saya sudah dibuat di Seattle (Museum of Pop Culture), Roskilde (Ragnarock Museum), dan Liverpool (British Music Experience). Ketiga musuem tersebut saya jadikan benchmark untuk perancangan ini. Sebenarnya ingin sekali bisa survey langsung ke tempat-tempat tersebut, tapi yah, harus jual ginjal dulu sepertinya. Daripada waktu sidang nanti ginjal saya tinggal sebelah, saya coba manfaatkan jaringan internet yang ada saja. Saya juga membaca beberapa buku dan artikel untuk menambah wawasan dan landasan teori.

Setelah semua data yang saya butuhkan sudah terkumpul, seharusnya saya bisa mulai merancang museumnya, namun di situ lah saya menemui kendala. Saya bingung sendiri menyusun program ruang untuk museum ini, saya bingung menentukan konten apa saja yang akan saya masukkan ke dalam museum. Ketika akhirnya sudah tidak bingung lagi, saya menemui kebingungan lain dalam menentukan konsep desain. Nah loh, bingung terus, makanya pegangan?!

Kalau kalian pernah mendengar sebuah proses bernama Design Thinking, saya sebenarnya mengerjakan TA dengan metode ini. Namun ketika itu saya terlalu banyak tidur berputar dan berkutat dalam membuat suatu keputusan, bolak-balik dari satu langkah ke langkah sebelumnya, sedangkan waktu yang saya punya tidak lah banyak. Berdasarkan Pedoman TA yang dibagikan oleh dosen, saya akan presentasi dalam tiga Sidang berbeda, dengan jarak waktu tiga bulan dari Sidang 1 ke Sidang 3.

Sidang 1, saya masih mengikuti jadwal yang telah disusun prodi. Berangkat ke Sidang 2, saya mulai keteteran dan akhirnya mundur beberapa bulan dari jadwal seharusnya. Alhasil, ketika sebagian besar teman sejurusan saya bisa diwisuda pada bulan Juli, saya masih harus ambil 0 SKS lagi di semester berikutnya karena belum Sidang 3. Saya juga berpikir bahwa saya tidak ingin terburu-buru dalam mengerjakan TA ini, saya tidak ingin lulus hanya sekedar lulus, tapi ingin memberikan yang terbaik dan menurut saya tiga bulan adalah waktu yang terlalu singkat.

Awalnya saya berpikir begitu, TAPI mendekati Sidang 3...Hehe. Saya mulai tidak yakin akan kemampuan saya dalam mendesain, saya mulai mengutuki Tugas Akhir saya sendiri, dan saya mulai bingung akan jadi apa saya setelah lulus nanti. Jika dirangkum, perjalanan TA saya kurang lebih seperti ini:



AKHIRNYA, berkat doa dan dukungan keluarga serta teman-teman semua (Ulin, Endah, Caca, Dea, Julita, Erlita, Nadzifa, Tuna, adik-adik yang udah bantuin bikin maket, semua yang dateng waktu saya Sidang 3, dan banyak lagi yang gak bisa saya sebutkan satu persatu), saya berhasil melalui semua ini. Terima kasih banyak untuk kalian yang sudah memberikan dukungan moril mau pun waktu, tenaga, dan materi, karena tanpa kalian saya bukan apa-apa. 

Terima kasih Tugas Akhir, berkat kamu saya jadi lebih mengenal diri saya sendiri. Saya sadar bahwa saya memiliki ketertarikan pada banyak hal, dan itu bukan sesuatu yang salah, asalkan saya mau berusaha untuk konsisten dalam apa yang saya pilih. Saya belajar bahwa saya harus bekerja lebih cermat lagi dalam mencapai apa yang saya inginkan. Kalau Bahasa Inggrisnya sih, "Work smarter, not only harder." Kalau bahasa Sundanya, saya kurang tahu hehe maaf ya, takut salah soalnya.

Saya harus lebih baik lagi dalam membuat rencana dan menaati apa yang saya rencanakan. Jujur, sampai saya lulus pun saya merasa pengetahuan saya masih belum cukup, dan merasa bahwa apa yang saya dapatkan di S1 ini masih sangat sedikit. Semoga saya masih bisa terus belajar dan belajar terus agar dapat memaksimalkan ilmu yang saya miliki sehingga menjadi orang yang berguna untuk keluarga, nusa, dan bangsa. Pilih saya! Pilih Saya! 

...............

Btw, desain akhirnya kurang lebih seperti yang tertera dalam poster ini, sebenarnya masih banyak kekurangan dan saya sendiri juga masih merasa kurang puas huhu. Untuk lebih jelasnya mungkin akan saya unggah lewat Behance atau kalau kalian ingin tahu lebih banyak dan mungkin punya kritik saran, bisa langsung hubungi saya melalui email hehe.


Wisuda
Sabtu, 22 Oktober 2017. Hari yang dinantikan akhirnya tiba. Hari di mana ribuan mahasiswa beserta orangtua berbondong datang ke Sabuga untuk menyaksikan prosesi pelepasan mereka, yang sudah melewati (minimal) 144 SKS dalam hidupnya. Senang? Sedih? Haru? Hura? Semua bercampur aduk dalam kepala.

A post shared by Silmi Sabila (@salmonelles) on


Satu yang baru saya ketahui, ternyata wisudaan itu CAPEK. Pulang-pulang, kepala saya pusing. Entah karena tidak terbiasa dengan full make up (terima kasih kak Udhin yang sudah bersedia jadi MUA-ku), atau energi saya terserap oleh keramaian wisuda (halah, dasar intravert).

Tapi senang sekali karena masih banyak orang yang ingat sama saya dan menyempatkan diri untuk datang memberikan hadiah. Rasanya kayak lagi ulang tahun, bahkan waktu ulang tahun pun saya gak pernah dapet kado sebanyak itu huhu makasih ya semuanya.

Selamat tinggal kampusku, yang sering juga jadi rumahku! Terima kasih untuk semuanya.


Dan Lain-lain
Seperti sempat saya singgung sedikit di awal, selain menjalani dua mata kuliah terakhir dalam kehidupan S1 ini, saya juga melakukan beberapa kegiatan lainnya. Maklum, saya tuh orangnya gak bisa kalau gak sibuk. Hehehe plis jangan tutup dulu browser-nya, sebentar lagi selesai kok, saya janji.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, 8EH tahun ini masih tetap seru! Apalagi, kami sempat diajak jalan-jalan ke Jogja naik kereta pariwisata bersama om tante alumni. Senang sekali! Saya juga masih sempat siaran hahaha. Oh iya selain itu saya juga sempat diwawancara sama anak Jurnalistik UNPAD untuk tugasnya, terus ternyata artikelnya masuk ke Line Today. Huahaha #sebuahpencapaian. Tahun ini, akhirnya saya harus mengucapkan selamat tinggal kepada radio yang telah membesarkan saya selama ini. Terima kasih untuk semua kesempatan dan pelajarannya, saya pasti akan merindukan kalian (meskipun sekarang belum, karena masih di Bandung).

Mencoba menambah pengalaman dalam dunia media ini, saya juga menjadi reporter untuk sebuah webzine asal Bandung bernama StereoSnap ID, lumayan juga menambah teman, pengalaman, dan latihan menulis, meskipun sampai sekarang tulisan saya maish belum bagus-bagus amat heuheu.

Semester ini, sempat bikin BBT #2 juga diajakin sama Dania, disempet-sempetin di sela bimbingan dan asistensi. Acaranya mungkin gak sebesar BBT yang pertama, tapi tak apa karena lagi-lagi dapat pengalaman dan kenalan baru. Selain BBT, sebenarnya Dania juga ngajakin untuk bikin acara musik lain, di pantai gitu ceritanya. Bahkan kami juga sempat survey lokasi ke Pulau Seribu dan berkenalan dengan Pak RT sana. Seruu karena saya belum pernah ke Pulau Seribu sebelumnya.

Terakhir, sebelum saya nulis penutup dan pergi tidur karena sekarang udah hari Senin...

Karena jam kuliah TA dan Sendal hanya sedikit dalam seminggu, saya coba cari kerjaan part-time biar bisa sekalian nambah-nambah uang buat bikin maket dan nge-print TA, ya kaan. Akhirnya saya diterima part-time di sebuah perusahaan start-up, benar sekali mereka adalah MarkOn Paint. Jadi, perusahaan ini menjual produk inovatif untuk interior, berupa cat yang dapat mengubah permukaan menjadi whiteboard. Di sini saya bertemu dengan orang-orang baru lagi, senang deh pokoknya, sampai akhirnya sekarang saya bekerja full-time di sini.

Sesungguhnya, sejujurnya, sebetulnya, hingga saat ini saya masih menyusun kembali apa saja yang akan saya lakukan selanjutnya. Di mana saya akan berada sepuluh tahun dari sekarang? Menekuni karir di bidang apa? Ingin S2, ingin coba kerja di Jakarta, ingin ini, ingin itu, banyak sekali~



4 comments

  1. Membaca artikel di blog orang adalah hal biasa, tapi membaca blog orang setelah (lumayan) lama mengenal orangnya, rasanya lucu juga. Mungkin sepuluh tahun ke depan merupakan waktu dimana kita bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan dan keluhan-keluhan kita di waktu ini dan sebelumnya (yang kita sering pusingkan dan sedihkan). Tapi kemudian, (mungkin, tapi kayaknya pasti) akan ada banyak pertanyaan lain yang belum bisa kita jawab pada masa itu.

    ReplyDelete
  2. balada setelah sarjana. khalayak ramai nyebutnya quarter life crisis (padahal emang iye bakal idup ampe umur 100 w juga ga paham). senang ya bertandang ke sini. wish you good and well, silmi. I still owe u a coffee ~

    *jadi pengen rajin ngeblog lagi*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha semoga panjang umur ya kita(?) Terima kasih sudah berkunjung Dayguano idolaku waktu masih SMP! Kabar-kabari dong kalau ke Bandung~

      Delete

© Silly Me
Maira Gall